Showing posts with label Taubat. Show all posts
Showing posts with label Taubat. Show all posts

Wednesday, May 11, 2011

~tEnaNgLah dUhai HaTi..~





Setiap hari kita ketawa. Setiap hari kita jumpa kawan. Setiap hari kita dapat apa yang kita nak.
Tapi..kenapa hati kita tak gembira?

Kita sembahyang setiap hari. Kita berdoa selalu pada Allah. Kita mintak sungguh-sungguh pada Allah. Tapi..kenapa susah sangat doa kita nak makbul? Sedangkan Allah ada berfirman. "Berdoalah pada Ku, nescaya akan Ku kabulkan...,"

Apa masalah kita?

Hati kita tak gembira sebab kita tak pernah bersyukur dengan apa yang kita ada. Kita tak pernah nak menghargai setiap nikmat yang kita dapat. Kita asyik memikirkan benda yang kita tak ada, sampai kita lupa melihat nikmat sekeliling kita.

Kita berdoa, tapi kenapa payah sangat doa kita Allah nak makbulkan?

Sebab kita asyik meminta pada Allah, tapi kita tak pernah mintak ampun pada Allah, sedangkan dosa-dosa kita terlampau banyak pada Allah. Alangkah tidak malunya kita. Kita merintih, kita merayu agar Allah makbulkan doa kita. Tapi, lepas kita dapat kesenangan kita lupa pada Allah, kita tak bersyukur pada Allah. Bila dah datang kesusahan, baru nak ingat Allah balik. Baru nak menangis, merintih..mintak Allah pandang kita. Macam mana Allah nak makbulkan doa kita?

Cuba kita renung diri kita. Cuba hitung, berapa kali kita sebut kalimah syukur dalam satu hari? Tak payah seminggu, cukuplah sehari sahaja. Berapa kali agaknya? Itupun kalau ada sebut la..

Pernah kita bangun malam, solat sunat...solat tahajud..solat taubat? Pernah? Ada...waktu zaman sekolah dulu. Itupun, lepas kene ketuk dengan warden, suruh bangun. Lepas tu...ada? Ada...time dah nak exam...waktu rasa result macam ada aura nak fail. Siap buat solat hajat lagi! Lepas dapat result tu, ada tak buat sujud syukur? Hmm...entah la, tak ingat pulak.

Hari-hari kita buat baik. Kita tolong orang. Kita sedekah dekat orang. Kita buat macam-macam. Tapi kenapa kita tak dapat nak rasa kemanisan setiap perbuatan yang kita lakukan tu? Hati kita tetap jugak tak tenang. Kenapa ye? Sebab dalam hati kita tak ada sifat ikhlas. Mulut cakap ikhlas, hati kata lain. Macam mana tu? Kita tolong orang sebab nak harapkan balasan. Nakkan pujian. Nakkan nama. Kita riak dengan setiap kebaikan yang kita buat. Macam mana hati nak tenang? Bila dapat kejayaan, kita bangga dengan apa yang kita ada. Mula nak menunjuk-nunjuk dekat orang. Sampai lupa siapa sebenarnya yang bagi kejayaan tu dekat kita.

Alangkah tidak malunya kita..., Allah ciptakan kita sebagai khalifah di bumi ni. Kitalah sebaik-baik kejadian yang Allah pernah ciptakan sehinggakan semua makhluk sujud pada bapa kita, Nabi Adam kecuali Iblis Laknatullah. Betapa Allah muliakan kejadian manusia. Tapi, kita sendiri tidak memelihara diri kita. Kita lupa tanggungjawab kita sebagai hamba. Kita lupa kepada yang mencipta diri kita. Bahkan, kita alpa dengan nikmat yang ada. Nabi Muhammad s.a.w, pada saat malaikat ingin mencabut nyawa Baginda, Baginda masih memikirkan umat-umatnya. Ummati! Ummati! Sampai begitu sekali sayang Rasulullah pada kita. Tapi kita....? Kita lupa pada Baginda Rasul. Berat benar lidah kita nak berselawat ke atas baginda. Macam mana hati kita nak tenang?
Lembutkanlah hati kita. Tundukkan lah diri kita pada Allah. Bersyukur dengan nikmat yang Allah pinjamkan pada kita. Semua itu tidak akan kekal. Bila-bila masa Allah boleh tarik balik semua itu. Ikhlas kan lah hati dalam setiap perkara yang kita buat.

Sesungguhnya, hanya Allah sahaja yang berkuasa menilai keikhlasan hati kita. Insya Allah, kita akan dapat merasai kelazatan halawatul iman itu sendiri. Tenanglah dikau wahai hati...

Thursday, June 3, 2010

.:Lidahku Kelu Untuk Berdoa:.



Tuhanku, aku adalah hamba yang faqir kepada-Mu. Jika aku faqir dalam kekayaanku, bagaimanakah aku faqir dan kefaqiranku ? Karena kefaqiran itulah, di sepertiga malam terakhir ini aku bersimpuh di pintu-Mu, untuk berdoa kepada-Mu.Ya Allah, seorang shalih memberikan pesanan bahwa salah satu adab doa adalah dengan mendahuluinya dengan puji-pujian dan syukur kepada-Mu.

Tapi Tuhanku, bagaimanakah aku bersyukur kepada-Mu, sedangkan tak ada syukurku yang cukup layak untuk dipanjatkan kepada-Mu. Hinanya syukurku tak sebanding dengan kemuliaan Dzat-Mu.
Tuhanku, bagaimanakah aku memuji limpahan rahmat-Mu dengan pantas, sedangkan limpahan rahmat-Mu padaku tak mampu kuhitung. Sungguh hanya Engkau saja yang pantas memuji-Mu.
Tuhanku, ridha-Mu sama sekali tidak bergantung pada sebab dari-Mu, lalu bagaimana mungkin ridha-Mu bergantung pada sebab dariku ? Engkau maha cukup dengan zat-Mu hingga tak memerlukan manfaat dari-Mu. Maka, bagaimanakah mungkin engkau mememerlukan sesuatu dariku ? Engkau sama sekali tidak memerlukankan syukurku.
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk bersyukur kepada-Mu. Biarlah aku bersyukur kepada-Mu tanpa suara. Sehingga hanya Engkau yang mengetahui syukurku pada-Mu.
Ya Allah, seorang shalih lain memberikan pesanan bahwa salah satu adab doa adalah dengan mendahuluinya dengan berzikir (mengingat) kepada-Mu.
Tapi Ya Allah……
Tuhanku, bagaimanakah aku mengingat-Mu, sedangkan Engkau telah mengingatku sebelum aku mengingat-Mu. (dengan memberi ilham agar aku mengingat dan berdzikir kepada-Mu)
Tuhanku, bagaimanakah aku menganggap-Mu ghaib sehingga melalaikan-Mu, sementara Engkaulah pengawas yang Maha Hadir.
Tuhanku, bagaimanakah aku tidak melihat dan mengingat Engkau karena hijab, sementara Engkaulah yang Maha Tampak pada segala sesuatu.
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk mengingat-Mu. Maka biarlahkanlah aku mengingat-Mu dengan cara yang hanya Engkau yang mengetahui.
Seorang shaleh mengatakan bahwa aku boleh meminta hajatku kepada Tuhanku.

Tapi Ya Allah……
Tuhanku, bagaimanakah aku meminta, sedangkan Engkau telah memberi sebelum ku minta.
Tuhanku, bagaimanakah aku meminta kepada-Mu, sedangkan hak-Mu lah memberi kepadaku.
Tuhanku, bagaimana mungkin Kau biarkan aku mengurus rezeki diriku sendiri, sementara Engkau lah yang menjamin rezekiku.
Tuhanku, bagaimana mungkin aku memutuskan harapan akan pengabulan hajatku pada-Mu, sementara harapan itu telah sampai dan kembali pada-Mu, bahkan sebelum aku mengucapkannya.
Tuhanku, bagaimana mungkin aku berharap kepada selain-Mu, sementara Engkau tidak pernah berhenti melimpahkan kebaikan kepadaku.
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk meminta hajat. Maka biarlahkanlah aku meminta hajat kepada-Mu dengan cara yang hanya Engkau dan malaikat-Mu yang mengetahui.
Seorang shaleh mengatakan bahwa aku boleh mengadukan masalah atau berkeluh kesah apapun kepada Tuhanku.

Tapi Ya Allah……
Tuhanku, bagaimana mungkin aku mengadukan nasib dan keadaanku kepada-Mu, sedangkan Engkau lebih mengetahuinya keadanku, dari pada aku sendiri.
Tuhanku, bagaimana mungkin aku mengadukan kezaliman yang dilakukan orang-orang padaku, sementara Engkau-lah penolongku. Kau izinkan kezaliman itu terjadi sebagai bakal pahala atas kesabaranku menanggungnya, dan kau jadikan kezaliman itu sebagai bakal siksa atas orang-orang yang melakukan kedzaliman terhadapku.
Tuhanku, bagaimana kah kemalanganku tidak menjadi baik, sementara ia berasal dari-Mu dan akan kembali kepada-Mu
Tuhanku, bagaimanakah aku dapat kecewa, sedangkan Engkau-lah yang mengasihiku, memperlakukanku, dan menjadi harapanku.
Tuhanku, bagaimanakah aku akan menjadi hina, sementara kemulian-Mu yang menjadi sandaranku.
Tuhanku, bagaimanakah keadaanku tidak menjadi baik, sementara keadaanku berasal dari-Mu, dan akan kembali kepada-Mu.
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk mengadu. Maka biarlahkanlah aku mengadu kepada-Mu dengan cara yang hanya Engkau dan nabi-Mu yang mengetahui.
Seorang shaleh lain mengatakan bahwa aku sewajarnya meminta ampun kepada Tuhanku atas dosa-dosaku.

Tuhanku, harapanku kepada-Mu tidak akan pernah putus meskipun aku berbuat maksiat kepada-Mu. Dan kecemasanku tidak akan pernah sirna meskipun aku melakukan ketaatan kepada-Mu.
Tuhanku, ketika dosa-dosa membuatku bisu, kemurahan-Mu membuatku kembali berbicara. Setiapkali peringai burukku membuatku putus-asa, karunia-Mu kembali membuatku berharap.
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk bertaubat. Maka biarlahkanlah aku bertaubat kepada-Mu dengan cara yang hanya Engkau dan rasul-Mu yang mengetahui.
Seorang shaleh lain mengatakan bahwa aku sewajarnya meminta kepada Tuhanku agar berhasil usahaku dan amalku.

Tuhanku, bagaimana aku akan bertekad sementara Engkau yang menentukan. Tapi, bagaimana aku tidak bertekad, sementara Engkau yang memberi perintah.
Tuhanku, betapa harapan kepada amalku telah Kau hancurkan dengan keadilan-Mu. Namun, karunia-Mu itu membebaskanku darinya (harapan kepada amal).
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk meminta. Maka biarlahkanlah aku meminta kepada-Mu dengan cara yang hanya Engkau yang mengetahui.
Seorang shaleh lain mengatakan bahwa aku sewajarnya meminta kepada Tuhanku agar diberikan pahala yang besar atas amal sedekahku.

Tuhanku, bagaimanakah aku akan bersedekah, sementara rezekiku darimu (Engkau maha pemberi). Kau pinjam pemberian rezeki-Mu padaku tadi (berupa sedekah) untuk Kau bayar berlipat ganda.
Tetapi sebagai hamba, adalah kewajibanku untuk berharap. Maka biarlahkanlah aku berharap kepada-Mu tanpa kata-kata, dengan cara yang hanya Engkau yang mengetahui.

Ya Allah, keputusanmu pasti berlaku dan tak mungkin tertolak. Semua itu membuat setiap lidah yang pandai bicara menjadi kelu dan bisu. Berharap bahwa aku tak punya keinginan lagi, selain keinginanMu. Karena, Tuhanku, adakah yang tersisa dari orang yang kehilangan-Mu, dan, adakah yang tersisa dari orang yang menemukan-Mu.

Wahai zat yang merasakan manisnya munajat kepada para kekasih-Nya sehingga mereka bersimpuh mesra di hadapan-Nya. Kebingungan ini sangat mengasyikkan, Maka tambahkan lagi kebingungan itu untukku…….

Wednesday, June 2, 2010





Subhanallah..MAha SuCi ALLAH...
Kasih SayangMU tidak terhitung YA ALLAH..


Renung-renungkan..

AKU TAKKAN MENANGIS
Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam
dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu
dan menyebarkan risalah bertajuk "Jalan-jalan Syurga" dan beberapa karya
Islamik yang lain.
Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar
seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat
dingin dan hujan mulai turun.
Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan
seraya berkata "Ayah! Saya dah bersedia"
Ayahnya terkejut dan berkata "Bersedia untuk apa?". "Ayah bukankah ini
masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah"
"Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat"
"Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika
hujan turun"
Ayahnya menambah "Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca
sebegini"
Dengan merintih anaknya merayu "Benarkan saya pergi ayah?"
Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada
anaknya "Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!"
"Terima kasih Ayah" Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah
hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.
Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun
yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan
risalah itu kepada penghuninya.
Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah "Jalan-jalan Syurga" ada
pada tangannya. DIa berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih
ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari
siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.
Akhirnya dia ternampak satu rumah yang agak terperosok di jalan itu dan mula
mengatur langkah menghampiri rumah itu. Apabila sampai sahaja anak itu di
rumah itu, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar
dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun
sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang memegangnya daripada pergi,
mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil
keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.
Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an.
Mukanya suram dan sedih. "Nak, apa yang makcik boleh bantu?"
Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang turun dari langit.
"Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat
sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya
hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling
bertuah". Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.
"Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu" dalam nada yang lembut
Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam
memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya "Ada sesiapa nak
menyatakan sesuatu"
Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah
perempuan separuh umur itu. "Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini
yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk
pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim.
Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan
dalam dunia ini" Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.
"Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi
saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap
anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu
lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba
loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa
pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi
lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi".
"Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini
setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi
ke pintu"
"Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu.
Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat". "Makcik, maaf
saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat sayangkan
makcik dan sentiasa memelihara makcik" itulah kata-kata yang paling indah
yang saya dengar".
"Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu
dan terus baca risalah itu setiap muka surat. Akhirnya kerusi dan tali yang
hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal mereka.
Aku tak perlukan itu lagi".
"Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi
hamba kepada Tuhan yang satu ALLAH. Di belakang risalah terdapat alamat ini
dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat
kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada
selama-lamanya di dalam neraka"
Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang
berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!
Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya
yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.
Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah
yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang
sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.
Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah ALLAH kepada
makhlukNya yang penyayang
Panjangkanlah risalah ini. Ingat ALLAH sentiasa menyayangi dan memelihara
kamu!


YANG DICARI SELAMA INI...PERJALANAN YANG PASTI...





Dunia ini umpama perjalanan seorang musafir kelana menuju satu destinasi yang pasti. Laluannya cuma satu arah iaitu menuju pada ALLAH SWT. Dia lah yang menciptakan kita dan kepadaNya lah kita kembali. Di situlah asal kita dan di situ juga kita kembali. Mahu atau tidak itulah hakikat kehidupan kita sebagai hamba. Kematian yang akan menjemput kita menemui ALLAH SWT sama ada dalam keadaan yang baik atau sebaliknya..kita sendiri lah yang menentukan.

Ada juga manusia yang masih tidak sedar bahawa sebenarnya kewujudan di dunia ini hanyalah untuk menuju mati. HAti sering tertanya2 kenapa aku wujud di dunia ini jika suatu masa kematian tetap akan terjadi? dan kenapa perlunya kematian? Tiada salahnya jika hati bertanya kerana itulah fitrah yang telah Sang Pencipta titipkan di dalam diri setiap insan. Fitrah untuk kembali pada asal. Lihatlah alam di sekeliling kita, renunglah sedalam-dalam nya ke dalam diri...carilah bukti interaksi antara kita dan Sang Pencipta. Sesudah itu akan terbit rasa rindu yang tidak dapat diterjemahkan dengan kata-kata. Di akhirnya kita pasti sedar bahawa selama ini hanya Si DIA lah yang kita cari.

Dalam Risalah Mahabbah oleh Ustaz Raja Ahmad Mukhlis, beliau mengatakan;
 Ramai manusia mencari apa yang belum pasti, sedangkan dia menuju apa yang pasti. Manusia yang bijak adalah, dia hanya mencari dan menuju apa yang pasti. ALLAH s.w.t.-lah yang pasti lagi hakiki. Tangisanmu biar terarah kepada mencariNya, agar jiwamu puas hanya dengan merinduiNya.

Umpama seseorang yang merindui sang kekasih, hati yang sentiasa merindui ALLAH pasti akan berusaha mendapatkan Cinta dan RedhaNYA. Bahagialah insan yang menemui ALLAH dalam bersama redha ALLAH dan rugilah bagi mereka yang berakhir dengan kemurkaan NYA. Moga Allah s.w.t. membimbing kita dan membawa kita kepada pembimbing yang boleh membawa kita kepadaNYa.